Dalam 10 tahun ke depan, apakah para pengrajin ini akan punah!? Bagaimana nasib para ahli lereng?

Halo semuanya.

Ini Enta.

Beberapa hari yang lalu, postingan seperti ini menjadi perbincangan.


Eeeeeeeee

Karena berpikir begitu, saya mencoba mencari tahu berbagai hal.

 


Ringkasan Proyeksi Penurunan Berdasarkan Sektor dalam Industri Konstruksi

Gambaran Umum (Proyeksi Tahun 2030–2040)

Menurut perkiraan Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata, jika peningkatan jumlah pekerja baru tidak terus berlanjut, jumlah tenaga kerja pada tahun 2030 berpotensi turun di bawah 4 juta orang.

Saat ini jumlahnya mencapai 4,79 juta orang (2024), turun lebih dari 3 juta orang dari angka puncaknya pada tahun 1997 yang mencapai 6,85 juta orang.

Jumlah tenaga kerja menurut jenis pekerjaan dan perkiraan tahun 2035 (diurutkan berdasarkan tingkat penurunan yang paling parah)

Perkiraan berdasarkan data Sensus Penduduk 2020 dan Institut Penelitian Ekonomi Konstruksi (2024→2035)

Jenis Pekerjaan Tahun 2024 (perkiraan) Tahun 2035 (perkiraan) Tingkat penurunan
Tukang plester Sekitar 49.000 orang Sekitar 30.000 orang ▲40%
Tukang kayu Sekitar 253.000 orang Sekitar 154.000 orang ▲40%
Tukang besi Sekitar 26.000 orang Sekitar 17.000 orang ▲33%
Tukang bekisting Sekitar 37.000 orang Sekitar 28.000 orang ▲26%
Tenaga Ahli Pipa(Pekerjaan Pipa) Sekitar 205.000 orang Sekitar 158.000 orang ▲23%
tukang atap Sekitar 112.000 orang Sekitar 108.000 orang ▲4%
Seluruh tenaga ahli Sekitar 2.318.000 orang Sekitar 1.932.000 orang ▲17%

Pengrajin yang Masih Ada dan Pengrajin yang Menghilang


Bagian mana yang paling berbahaya?

🔴 Tingkat ancaman kepunahan: Tukang plester dan tukang kayu

Jumlah tukang plester yang pada tahun 1985 berjumlah sekitar 220.000 orang, pada tahun 2020 berkurang menjadi sekitar 60.000 orang. Jumlah tukang kayu pun berkurang dari sekitar 800.000 orang menjadi sekitar 300.000 orang.

Jumlah pekerja di bidang tukang plester hanya sekitar seperlima dari jumlah pekerja di bidang tukang kayu, sehingga muncul kekhawatiran bahwa jika para pekerja berusia 65 tahun ke atas pensiun, hampir tidak akan ada lagi pekerja yang mampu mengerjakan pekerjaan tanah.

Tidak menggunakan cetakan sudah menjadi hal yang biasa dan tidak masalah!

🟠 Tingkat keparahan: Tukang besi dan tukang bekisting

Populasi lanjut usia terus bertambah.

Jumlah calon pekerja muda semakin sedikit, dan pada tahun 2035 jumlahnya diperkirakan akan menyusut menjadi dua pertiga hingga tiga perempat.

(Ini masalah gaji yang terlalu rendah dibandingkan dengan keahlian yang dimiliki! Secara pribadi, saya berpendapat bahwa kontraktor umumlah yang bersalah.)

🟡 Tingkat kewaspadaan:

Pekerjaan Pipa (Pemasangan Pipa)

Meskipun jumlahnya sendiri memang banyak, perhitungan menunjukkan bahwa pada tahun 2035, satu dari empat orang akan hilang.

🟢 Cukup baik:

Pekerja konstruksi (sebagian besar pekerja perancah)

Jumlah pekerja di bidang konstruksi tetap relatif stabil. Tren masuknya tenaga kerja muda ke bidang ini cenderung lebih stabil dibandingkan dengan bidang pekerjaan lainnya.

Asosiasi Dokter Perumahan (Lembaga Nirlaba)


Mengapa “tukang plester dan tukang kayu” adalah yang paling berbahaya?

  • Akibat berkurangnya permintaan karena penurunan jumlah pembangunan rumah baru, gaji dan status di dalam industri tersebut pun menurun
  • Masa pelatihan yang panjang, sehingga sulit untuk melihat prospek kemandirian dan penghasilan
  • Dengan semakin meluasnya penggunaan rumah prefabrikasi dan rumah hasil industrialisasi, lapangan kerja itu sendiri pun menyusut
  • Usia rata-rata: Tukang plester53,6 tahun, tukang kayu yang50,4 tahun(Angka ini per tahun 2010)

Bagaimana dengan kontraktor lereng?

Pekerja lereng termasuk dalam kategori “pekerja konstruksi dan pekerjaan tanah”

Berdasarkan klasifikasi usaha yang memerlukan izin konstruksi, pekerjaan lereng adalahUsaha Konstruksi Pemasangan Atap, Pekerjaan Tanah, dan Betontermasuk di dalamnya.

Karena dalam statistik tidak ada data khusus mengenai “pekerja lereng”, maka kita akan menganalisisnya berdasarkan data pekerja konstruksi dan pekerja teknik sipil yang terkait.

Tingkat kelangsungan hidup


Data Tenaga Kerja di Bidang Konstruksi dan Pekerjaan Umum (Perkiraan Tahun 2024→2035)

Jenis Pekerjaan Tahun 2024 (perkiraan) Tahun 2035 (perkiraan) Tingkat penurunan
tukang atap Sekitar 112.000 orang Sekitar 108.000 orang ▲4%
Pekerja konstruksi sipil berjumlah ratusan ribu orang Menurun, namun secara bertahap Cukup lumayan

Jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain (tukang kayu ▲40%, tukang plester ▲40%, tukang besi ▲33%),Laju penurunan jumlah pekerja konstruksi sangatlah lambat.

Namun, sebenarnya saya rasa sekitar 70 persen dari mereka itu adalah pekerja perancah... w


Mengapa pekerja lereng dan pekerja konstruksi ketinggian dianggap “lebih baik”?

① Permintaan tidak berkurang—bahkan mungkin justru meningkat

Akibat pemanasan global dan perubahan iklim, bencana alam telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Pekerjaan penahan lereng merupakan salah satu pekerjaan yang sangat penting untuk mencegah longsor, dan diperkirakan permintaan akan pekerjaan ini (sebagai langkah penanggulangan bencana) akan terus meningkat di masa mendatang. (Berdasarkan berbagai sumber daring)

Dengan kata lain, berbeda dengan tukang kayu dan tukang plester yang “jika pekerjaan berkurang, jumlah tukangnya pun berkurang”, pekerjaan pemeliharaan lereng adalahPekerjaan semakin banyak, tetapi tenaga kerja tidak mencukupiArah. Strukturnya justru sebaliknya.

② Memiliki tingkat keahlian yang tinggi dan sulit digantikan

Saat ini, di industri konstruksi, tenaga kerja berpengalaman yang menangani pekerjaan lereng sangat dicari.

Hal ini karena mereka memiliki keahlian yang sangat spesifik dan keterampilan yang memungkinkan mereka langsung berkontribusi di lapangan. (Jika dilihat dari sisi positifnya)

③ Tidak dipengaruhi oleh permintaan perumahan

Sektor lereng merupakan bidang utama dalam infrastruktur, penanggulangan bencana, dan pemeliharaan jalan, sehingga terkait erat dengan anggaran publik dan relatif stabil.

Tapi, kita jadi terombang-ambing oleh anggaran negara, haha

Masa Depan


Namun, ada hal yang membuat kita tidak bisa begitu saja merasa tenang...

  • Di antara jumlah total pekerja konstruksi, jumlah spesialis lereng relatif sedikit. Jumlah kontraktornya sendiri memang memang sudah sedikit sejak awal.
  • Masalah penuaan populasi juga dialami oleh para tukang lereng; usia rata-rata para pekerja terampil terus meningkat
  • Semakin banyak usaha mikro yang tidak memiliki penerus dan akhirnya gulung tikar (terlihat dari tren penurunan jumlah usaha)
  • Di sektor konstruksi, terutama di kalangan pekerja terampil seperti tukang kayu dan tukang plester, memastikan ketersediaan tenaga kerja menjadi tantangan utama. Keterbatasan pasokan akibat kekurangan tenaga kerja terampil diperkirakan akan semakin parah di masa depan, dan diperkirakan akan menekan investasi konstruksi sebesar sekitar 9 triliun yen pada tahun 2030. Pekerjaan pengerjaan lereng pun tidak akan luput dari dampak ini...

“Di bidang konstruksi lereng, permintaan terus meningkat, namun jumlah tenaga kerja justru semakin berkurang.”

Bukan kemunduran di mana ”pekerjaan-pekerjaan seperti tukang plester dan tukang kayu” menghilang satu per satu, melainkan,Meskipun ada pekerjaan, tidak ada tenaga kerja; jumlah perusahaan yang mampu mengerjakannya semakin berkurangMaka akan terjadi situasi seperti itu.

Jadi, apakah ini jenis usaha di mana orang-orang yang sudah mandiri dan memperkuat struktur organisasinya sejak dini dapat bertahan dalam jangka panjang?

Meskipun demikian, bukan berarti industri itu sendiri akan lenyap; saya membayangkan masa depan di mana tukang kayu dan tukang plester akan bangkit kembali dalam bentuk yang berbeda.

Misalnya, seperti yang dilakukan Sekisui House beberapa waktu lalu, yaitu dengan mempekerjakan para tukang secara langsung di perusahaan sendiri!?

Bagaimana nasib perusahaan konstruksi lereng ke depannya? Apakah akan membeli? Atau justru dibeli? Atau mungkin akan diambil alih?

 

Ini memang zaman yang bikin kita gelisah setiap kali mendengar bahwa jumlah pengrajin semakin berkurang.

Sepertinya kita perlu mempertimbangkan dengan matang hal-hal yang akan terjadi di masa depan dan bertindak sesuai dengan itu!

Bagaimana pendapat kalian?

 

Sampai jumpa lagi.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses