Apakah industri konstruksi tidak mengalami kemajuan?
Inti dari industri konstruksi adalah “bangunan” dan “infrastruktur”.
Ada rumah yang menjadi tempat tinggal manusia, dan ada pula fasilitas yang menghasilkan keuntungan. Selain itu, ada pula infrastruktur yang menghubungkan keduanya dalam berbagai bentuk. Membangun semua hal tersebut merupakan misi industri konstruksi, dan hal ini sangatlah penting bagi kelangsungan hidup manusia.
Oleh karena itu, tempat ini memiliki sejarah yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Teknologi dan filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak diragukan lagi bahwa hal itulah yang melahirkan prinsip dan kebanggaan, serta menjadi pendorong utama industri konstruksi.
Namun...
Saat ini, zaman mulai mengalami perubahan besar. Nilai-nilai yang melekat pada bangunan dan infrastruktur telah berubah secara signifikan, begitu pula cara kerja dan cara orang-orang menjalin hubungan.
Saya merasa kita telah memasuki fase di mana teknologi dan metode kerja berubah sedemikian rupa hingga tidak meninggalkan jejak sama sekali. Printer 3D adalah contoh yang tepat.
Industri yang masih relatif baru ini terus menyesuaikan model bisnisnya sesuai perkembangan zaman, sekaligus melahirkan teknologi-teknologi baru. Konsep “diversifikasi” kini telah mengakar, dan “new normal” terus bermunculan.
Lalu, bagaimana dengan industri konstruksi di masa seperti itu?
Faktanya, peralatan dan bahan yang digunakan para pengrajin memang terus berubah. Meskipun perlahan-lahan, saya merasa ada kemajuan.
Selain itu, lembaga-lembaga penelitian, termasuk yang berskala besar, juga berusaha memperoleh teknologi baru dengan memanfaatkan teknologi yang ada, dan sesekali berita mengenai hal tersebut pun muncul.
Meskipun begitu, secara nyata sepertinya tidak ada kemajuan sama sekali, bukan?
Alasannya, menurut saya, adalah karena cara pandang perusahaan konstruksi skala kecil dan menengah berbeda. Kenyataannya, perusahaan-perusahaan yang disebut sebagai “lokal” ini masih sulit untuk mengambil langkah pertama.
Industri konstruksi adalah ”permainan tim”
“Di industri konstruksi, sih, selama ini memang selalu dilakukan seperti ini.”
“Industri konstruksi kan harus menggali tanah, jadi digitalisasi itu nggak perlu.”
Faktanya, ada banyak perusahaan yang hanya memiliki satu komputer dan mengurus dokumen melalui faks. Bahkan, ada juga perusahaan yang masih membuat penawaran harga secara tulisan tangan.
Tentu saja, selama bisnis tersebut berjalan dengan baik, tidak perlu ada orang lain yang berkomentar. Lagi pula, ini adalah bisnis yang berkontribusi bagi masyarakat dan mampu menopang kehidupan mereka sendiri.
Namun, menurut saya, industri konstruksi adalah pekerjaan tim.
Jika orang lain ingin maju, tetapi ada seseorang yang menjadi penghalang, kita tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri dengan situasi tersebut.Dengan kata lain, di sana akan terbentuk kondisi di mana, sekeras apa pun kita berusaha, kita tetap tidak bisa maju.
Mereka pun berkata,
“Digitalisasi? Bagi kami, itu mustahil. Kami bahkan belum bisa menggunakan ponsel pintar.”
“Meskipun mencoba hal baru, pada akhirnya tetap saja tidak akan berbeda dari sebelumnya.”
“Kalau mau melakukannya, harus serius; kalau cuma sekadar mencoba-coba, pasti nggak akan berhasil.”
Apa nama penyakit yang melanda industri konstruksi?
Lagipula, lagipula, lagipula...
Ya, industri konstruksi saat ini sedang mengalami “sindrom Dousemuri”.
Karena saya merasa ada kesenjangan yang sangat besar antara pekerjaan yang sedang saya lakukan saat ini dengan teknologi mutakhir yang diliput oleh media, maka muncullah persepsi bahwa “IT = sulit”.
Pada akhirnya, mereka tidak berani mengambil tantangan dan juga tidak belajar. Rasanya seperti itulah situasinya. Akibatnya, kaum muda mulai menjauh, dan industri ini pun perlahan-lahan menjadi tempat yang tidak menarik bagi mereka.
Jika itu adalah kerajinan lokal, mungkin tidak masalah. Karena perubahan bukanlah hal yang selalu benar. Tradisi itu penting, dan misi kita adalah mewariskan teknik yang tidak berubah.
Namun, hal ini tidak berlaku bagi industri konstruksi. Industri ini merupakan sektor yang menopang kehidupan masyarakat, dan harus terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Orang-orang yang bertanya, “Apa itu 5G?”, tidak akan bisa membangun stasiun pemancar tersebut. Artinya, industri konstruksi harus terus berkembang seiring perkembangan zaman.
Sebenarnya, digitalisasi bukanlah hal yang sulit. Begitu dokumen kertas dipindai, digitalisasi pun sudah terjadi. Begitu Anda mengirim email kepada seseorang, digitalisasi pun sudah terjadi.
Dan, semua teknologi berada pada garis lanjutan dari hal tersebut. Ini bukanlah “konsep” yang benar-benar baru. Ini adalah hasil dari upaya untuk mewujudkan gagasan agar menjadi lebih praktis, dan pada dasarnya, baik itu digital maupun analog, pada akhirnya sama saja.
Cobalah untuk sedikit tertarik. Cobalah untuk sedikit belajar. Cobalah untuk sedikit menantang diri sendiri.




