4 Perbedaan yang Sering Dirasakan oleh Manajer Konstruksi Pemula (dari Dewa Konstruksi)

Dewa Konstruksi

Karyawan baru yang bergabung sebagai manajer konstruksi akan ditugaskan ke lokasi proyek dengan perasaan campur aduk antara kecemasan dan kegembiraan, padahal sejujurnya mereka belum begitu memahami tugas-tugas yang harus dilakukan. Sebagian besar karyawan baru tersebut kemungkinan besar akan menghadapi kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Saya pun pernah mengalaminya.

Saat mendengarkan cerita para karyawan baru saat ini, saya menemukan banyak kesamaan dengan kesenjangan yang saya rasakan sendiri saat masih menjadi karyawan baru, sehingga hati saya dipenuhi rasa rindu. Oleh karena itu, kali ini saya ingin memperkenalkan dengan cara yang lucu dan menghibur beberapa kesenjangan yang sering dirasakan oleh manajer konstruksi tahun pertama.

Pengrajin itu, orangnya 100 kali lebih baik dari yang kubayangkan

Baik dulu maupun sekarang, mungkin masih banyak orang yang memiliki citra bahwa “pekerja konstruksi itu menakutkan”. Ketika tiba di lokasi proyek, terlihat banyak orang yang tampak garang, dan saya sendiri ingat pernah tidak bisa tidur pada malam sebelum ditugaskan ke lokasi proyek karena khawatir akan dimarahi oleh para pekerja konstruksi.

Namun, begitu saya ditempatkan di sana, rasa cemas itu lenyap dalam sekejap. Saya masih ingat dengan jelas betapa saya berteriak dalam hati, “Ternyata banyak sekali tukang yang orangnya baik banget~!!!”

Saya merasa bingung karena pekerjaan ini cukup menuntut pemikiran

Dulu, saya hanya membayangkan bahwa pekerjaan manajemen konstruksi hanyalah memberikan instruksi kepada para pekerja sambil memegang gambar teknis dan menyusun dokumen, tetapi ketika benar-benar terjun ke lapangan, saya ingat pernah merasa bingung karena ternyata pekerjaan ini lebih menuntut pemikiran daripada yang saya bayangkan.

Terutama, banyaknya perhitungan dan penggunaan konsep geometri yang intensif mungkin terasa sebagai kesenjangan yang besar bagi mereka yang tidak lulus dari jurusan arsitektur.

Keterampilan komputer juga diperlukan dalam manajemen konstruksi

Mungkin banyak mahasiswa yang berpikir bahwa dalam bidang manajemen konstruksi, meskipun tidak memiliki keterampilan komputer, semuanya bisa diatasi dengan kemampuan interpersonal! Saya pun dulu berpikir demikian. Bahkan, saya pernah mendengar ada orang yang memilih bidang manajemen konstruksi justru karena tidak mahir menggunakan komputer.

Namun, begitu mulai menangani manajemen konstruksi, saya langsung menyadari betapa pentingnya keterampilan komputer. Terlebih lagi, setelah menjadi kepala kantor, saya harus menghabiskan lebih dari separuh hari menatap layar komputer.

Tidak mengerti arti istilah-istilah tersebut, sehingga merasa seperti berada di negeri asing

Setiap hari, begitu tiba di lokasi kerja, istilah-istilah teknis bertebaran di mana-mana. Meskipun saya merasa sudah belajar sedikit sebelum bergabung dengan perusahaan, pada tahun pertama saya sama sekali tidak memahami arti istilah-istilah tersebut, hingga saya merasa seolah-olah sedang berada di negeri asing.

Saya menerima instruksi dari atasan menggunakan istilah-istilah teknis, lalu menjalankan tugas tanpa benar-benar memahaminya, dan hari demi hari berlalu begitu saja. Melihat gambar teknis itu sama saja seperti melihat peta peradaban kuno—sulit sekali dipahami—sampai-sampai dalam hati saya berpikir, “Apakah orang yang bisa membaca gambar seperti ini itu gila?” (tertawa).

 

Dewa Konstruksi

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses